Langsung ke Topik Utama
Banner Iklan

Bidak Catur, Tawarkan Tantangan Berbeda di Setiap Pionnya

29 Oktober 2010 oleh Redaksi   di:

Bidak Catur, Tawarkan Tantangan Berbeda di Setiap Pionnya

HIMPALAUNAS.COM, MALANG - Kesukaannya terhadap catur muncul semenjak sekolah dasar. Waktu itu, ia belum memahami benar cara memainkan bidak catur. Kemampuannya baru terasah ketika menginjak sekolah menengah pertama. Secara otodidak, ia pun mulai lihai bermain catur, meski sampai sekarang ia merasa ‘ada langit di atas langit’. Merasa belum mahir bila menghadapi lawan dengan teknik yang belum ia kuasai, membuatnya semakin mencintai catur, karena catur menawarkan tantangan yang berbeda di setiap pionnya.

Menurut seorang pecinta atur dan juga seorang guru di kota Malang, Harjono, ia adalah penghobi segala sesuatu yang bersifat teka-teki. “Bermain catur kan juga termasuk teka-teki, termasuk bermain scrabble dan mengisi teka-teki silang. Saya sangat menyukai aktivitas yang mendorong rasa penasaran. Meski sudah bisa, rasa penasaran dan ingin terus bermain selalu muncul. Lagipula ini dapat menstimulus daya pikir otak,” ucap Harjono yang tinggal di Sawojajar.

Kesukaannya terhadap catur semakin menjadi dengan mendirikan klub catur bersama Kepala SD NU Hasyim Ashari, Ali Yasin. Klub bernama ‘Pion 12’ tersebut resmi didirikan tahun 1991 lampau bersama Ali Yasin yang pada saat itu menjabat ketua Rukun Warga XII di Sawojajar. “Pion itu biasanya kan delapan, tapi karena didirikan di RW XII makanya nama klubnya pion 12. Dulu, klub catur jarang, beda dengan sekarang,” ujar Harjono yang melepas jabatan ketua Pion 12 tahun lalu.

Bahkan, tahun 2000 silam, Pion 12 mengadakan acara besar-besaran bertajuk Menpora Cup dengan mendatangkan menteri Pemuda dan Olah Raga yang menjabat saat itu. Pertandingan olah raga tersebut menasional, namun sekarang berganti menjadi Walikota Cup. Sekarang, Walikota Cup menjadi program rutin Perkumpulan Catur Indonesia (Percasi) di Kota Malang.

Harjono memiliki segudang pengalaman bermain catur. Namun, ia memiliki satu pengalaman yang tidak dapat ia lupakan sampai sekarang. Meski ia kalah telak dari lawan bermainnya, Harjono tetap mengaku puas. Pengalaman bukan pertandingan ini ia peroleh 6 tahun lalu ketika melawan Master Nasional (MN) Kusnadi. “Saya terheran-heran, karena dia mampu membaca apa yang akan saya lakukan. Saya memerlukan waktu 5 menit untuk berpikir, sedangkan dia cuma satu menit,” tukas Harjono seusai mengajar.

Menurut Harjono, kondisi percaturan di Kota Malang dahulu dan sekarang berbeda. Tingkatan junior, mulai TK sampai perguruan tinggi, sangat sedikit. Padahal jumlah sekolah di Kota Malang cukup banyak. Kemudian, Harjono yang saat itu sudah aktif di Percasi memutuskan masuk ke sekolah-sekolah menginformasikan kejuaraan daerah (Kejurda) khususnya catur.

“Percasi menyeleksi peserta pra Kejurda ke sekolah-sekolah, hingga menjaring 54 peserta. Sejumlah 54 peserta tadi disaring untuk dikirim mengikuti Kejurda tingkat propinsi yang bertempat di Kediri,” paparnya. Diawali pada tahun 2002 yang memeroleh 54 peserta, di tahun-tahun berikutnya Percasi mampu menjaring ratusan peserta pra Kejurda.

Hingga tahun 2007 lalu, 600 peserta mengikuti seleksi pra Kejurda. “Kalau dulu saya mendatangi satu tempat ke tempat lainnya, sekarang ini malah banyak orang yang menelepon menanyakan pelaksanaan Kejurda. Tidak repot kayak dulu, mungkin karena sudah dikenal dan mereka hafal,” ucapnya. Bahkan, tahun ini Harjono menargetkan ada 800 peserta yang mengikuti seleksi dari Percasi.

Keaktifannya di Percasi, menjadi pintu masuk Harjono mengamati perkembangan catur di Kota Malang. Sekitar tahun 2000, ia mengamati peserta junior kebanyakan berasal dari satu sekolah saja, yakni SMA Santo Yusuf. Lantas, ia mengambil jalan mendirikan ekstrakurikuler di tempat ia mengajar. Langkah ini pun diikuti beberapa SMP di kota Malang. Hingga sekarang, Harjono menyandang sebagai pembina ekstrakurikuler catur.

Harjono menyarankan, bagi siswa yang menyukai catur dapat mengikuti ekstrakulikuler. “Terlebih dahulu, mereka harus menyukai catur. Setelah itu baru meningkatkan kemampuannya, bisa mengikuti ekskul maupun ikut sekolah catur yang sudah tersebar di Kota Malang ini,” ujar Harjono yang pernah menjuari Pekan Olah Raga (POR) Guru 2006 lalu secara beregu

Profesi guru fisika yang disandang Harjono tidak menghalangi hobinya bermain catur. Malah, ia menemukan korelasi antara fisika dan catur. “Sama-sama memiliki permasalahan yang harus diselesaikan dengan unsur rumus,” katanya. Namun, adakalanya Harjono merasa jengkel. “Terkadang saya kesal terhadap anak-anak yang diajari fisika maupun catur seringkali lupa, nilai ulangan jelek, dan pertandingan kalah,” keluhnya. Namun, ia memiliki falsafah bahwa mengajar itu harus dinikmati. “Meskipun berat, saya harus bisa menikmati,” imbuhnya.

Bagimanapun juga, Harjono tidak dapat dipisahkan dengan catur, meski sesekali waktu ia tidak ingin bermain catur. “Saya bermain catur sesuai keinginan saja, kalau pas lagi tidak mood ya tidak akan bermain catur. Berbeda dengan atlit nasional yang memang mengukir prestasi, minimal sehari harus bermain catur selama 6-8 jam. Kalau saya kan hanya sekelas pertandingan tingkat POR Guru,” pungkasnya sembari terkekeh. (berbagai sumber/dns)

Share this Sebarkan
Powered by Jaringmaya.Com